Langsung ke konten utama

Kita dan Kebiasaan Kita

Bismillah
Dulu, kita yang membentuk kebiasaan. Sekarang, kebiasaan yang membentuk kita.
Kita selalu berdalih atas nama kebiasaan pada hal-hal yang secara refleks kita lakukan. Atau pada hal-hal yang kita tidak perlu berfikir lagi untuk melakukannya. Otak dan tubuh kita sudah melakukan otomatisasi atas hal-hal itu, hal-hal yang katanya dibentuk oleh kebiasaan. Syukur syukur hal itu adalah amal yang baik, kalau buruk?

Menurut Dr. Elfiky, kebiasaan terbentuk melalui enam tahap, yakni: Berpikir, perekaman di dalam otak, pengulangan perilaku, penyimpanan sebagai buah dari pengulangan berkali-kali, pengulangan kembali, dan akhirnya menjadi kebiasaan.  Entah itu kebiasaan positif mau pun negatif, kebiasaan melalui tahap ini.

Karena pengulangan yang berkelanjutan dengan tahapan-tahapan di atas yang dilalui, akal manusia meyakini bahwa kebiasaan mereka merupakan bagian terpenting dari hidupnya. Akal melakukan otomatisasi yang mengakar kuat dalam alam bawah sadar sehingga ia memperlakukan kebiasaan seperti bernapas, makan, minum, sesuatu yang dikelola bukan oleh pikiran sadar kita.

Sementara tulis Felix Siaw dalam bukunya, "walaupun pada manusia habits yang dipilihnya dipengaruhi oleh cara berpikir, namun, dalam proses pembetukannya, peran akal tidaklah terlalu dominan. Faktor yang menentukan apakah kita akan memiliki habits hanya 2 hal, yaitu practice (latihan) dan repetition (pengulangan), yang tentu saja dilakukan dalam rentang waktu tertentu. Practice berfungsi untuk menentukan apakah aktivitas yang dilakukan sudah benar atau belum, tepat sasaran atau tidak. Sedangkan pengulangan akan menyempurnakannya. Practice makes right, repetition makes perfect."

Sebuah penelitian menyampaikan bahwa seseorang baru akan menjadi ahli dalam bidang yang dia pilih apabila telah berlatih selama 10.000 jam dibidang tersebut. Jika berlatih selama tiga jam sehari dalam bidang tersebut maka perlu 10 tahun bagi kita untuk untuk mencapai 10.000 jam itu. Bila kita ingin 5 tahun maka diperlukan 6 jam perharinya. 

Ada juga penelitian lain yang menulis bahwa kebiasaan akan terbentuk setelah minimal kita melakukannya selama 21 hari secara konsisten. Menurut para pakar, terbentuknya suatu kebiasaan baru yang akan menutup kebiasaan lama melewati 3  milestones yang terbagi dalam: 1x30 hari pertama, 3x30 hari berikutnya, dan 10x30 hari berikutnya. Untuk menjadi sebuah otomatisasi, minimal kita sudah melewati 2 milestones, sebab di 1x30 hari pertama, 3x30 hari berikutnya, kita masih rentan kembali ke habit yang lama.

Nah, itulah mengapa, Ramadhan adalah rahmat dari Allah swt. Kita yang selalu merasa sibuk untuk bertahan dan konsisten dalam kebaikan, di bulan inilah Allah memberikan suatu kesempatan untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Shaum Ramadhan mendorong mukmin melaksanakan ajaran-ajaran syari'ah dalam periode waktu yang lebih panjang. Kita dilatih untuk mematuhi syariat Nabi Muhammad SAW selama sebulan penuh, setiap tahun, siang dan malam. Sepanjang hari isi kehidupan kita adalah hal yang manfaat.
"Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan.” - Aristoteles
Tapi kemudian setelah kita memiliki "kebiasaan berbuat baik", percayalah bahwa itu bukan hanya sebatas hasil latihan dan repetisi selama waktu tertentu sehingga akal kita tidak perlu lagi disuruh. Namun semata-mata, Allah yang Maha Baik yang insya Allah menerima amalan kita. Karena tanda diterimanya suatu amalan adalah Allah memberikan taufik untuk terus melakukan amal shalih, sebagaimana tertulis di Ar Rahman, "tiada balasan dari kebaikan selain kebaikan pula"

Lalu bagaimana agar kita punya konsistensi untuk terus melakukan amal shalih? 

Supaya tidak berhenti dan terus bergerak dalam kebaikan dan kebenaran, ruh harus punya sumber motivasi yang terus mengalir, tak pernah putus, dan tidak pernah habis. Sehingga biar pun raga menolak karena lelah ataupun variasi level rintangan yang melintang, pun logika mengatakan tidak, raga mampu bergerak karena ruh selalu punya kekuatan yang gaya dorongnya lebih besar.

Adalah karena iman kepada Allah sumber kekuatan dan motivasi itu.

Barangkali sulit untuk memulai dan tetap konsisten dalam hal yang baik, mungkin bahan bakar raga hanya berasal dari hal-hal fatamorgana dunia. Hal-hal yang kita paham bahwa semua itu fana, dan kita tau bahwa ruh selalu memiliki kecenderungan untuk bertemu Rabb-nya. (Menurut saya) itulah mengapa Allah selalu lebih dari cukup.

Intinya lillah fillah billah. Dan semata-mata bukan karena terbiasa, tapi karena Rahmat dari Allah, kita masih bisa (dan berharap diterimanya) melakukan amal baik.

Ya Allah, lindungi kami dari hal-hal dan perbuatan yang tidak bermanfaat.

Wallahu A'lam

Bandung, 4 Ramadhan 1438 H

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

" Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja," a quote by Buya Hamka Sebagai (calon) penyedia jasa kesehatan, saya akan berinteraksi dengan jasad dan nyawa manusia. Saya akan berinteraksi dengan hidup dan kehidupan orang lain, sampai mungkin ada saat tanggungjawab hidup dan kehidupannya ada di tangan yang kecil ini. Memikirkanya saja lelah dan berat.  Suatu waktu sesorang bertanya pada saya, "bagaimana rasanya mempelajari hidup manusia?" Saya jawablah saat itu, kurang lebih begini, "Rumit. Wajarlah seorang Moore masuk islam karenanya, tapi ga membuat seoramg atheis yang lain percaya bahwa dirinya diciptakan. Saya sendiri tak tahu apakah menjadi bertambah yakin atau tidak karena pemikiran saya sudah terset bahwa saya adalah makhluk yang tercipta. Hmmm selebihnya banyak bersyukur karena saya diciptakan dengan sempurna dalam artian untuk menjalankan hidup. Rumit, karena banyak hal dari hal seabst...

Cerita Jaga Tujuh

Bismillah Waktu di stase anak ini, tempat jaga kami antara 3 tempat: igd, ruang rawat kenanga, atau ruang perinatal anthurium. Kata yang sebelumnya sih, paling enak jaga igd kalau mau yang jelas, atau jaga kenanga kalau mau gabut. Yang jelas, gak jaga peri. Tapi, justru saya lebih suka jaga peri. Walau disuruh ambu, disini lebih terhibur matanya dengan lihat dedek dedek bayi emesh innocent walau mereka nangis-nangis dan ada yang harus diambu, bayi baru lahir memang terlihat bersih dari dosa secara nyata. Ada neglected baby, si bayi kiki, sudah 4 bulan di ruangan peri. Jadi senior dan chief of baby di anturium. Gaya tidurnya udah like a boss. Badannya gembil, karena sering dirawat sama perawat bayi disini. Jadi alasan kami mau jaga peri. Kami gendong-gendong, kami isengin, kami toel-toel pipi gembilnya, kami videoin dan masukin ke instastories, dan sudah kami aku jadi anak masing-masing. Kasihan, sudah 4 bulan gak diambil-ambil si kiki ini. Ada yang bilang karena ibunya sudah meni...

Moments

Bismillah Momen kumpul keluarga yang aku suka adalah saat di perjalanan dan makan bersama di luar. Satu mobil berisi sepuluh orang. Aku melihat semuanya tumbuh dan berkembang, sebab mobil terasa semakin sempit di tiap perjalanannya. Dan juga obrolan di meja makan yang tiap hari makin berbobot.  Di rumah, kami jarang kumpul. Semua anak ibu sedang di masa punya kesibukan masing-masing, tinggal 2 bocah kecil yang sering main di rumah.  Si sulung kadang ada di rumah, tapi kalau di rumah kerjanya nonton dan diam di kamar atau bantu masak. Si anak kedua, gadis yang suka pergi pagi pulang malam, bahkan kadang tidak pulang, begitu pula si anak ketiga yang lagi macem-macem ikut kegiatan di kampus. Si anak keempat, sejak punya motor, setelah pulang sekolah atau lagi libur pasti pergi. Si anak kelima, sering kongkow sama temen-temennya. Si anak keenam, lagi ingin main2 juga ke rumah temennya. Lalu saat datang ke rumah, yang tersisa hanys capek, lelah, lapar, dan ngantuknya. La...