Bismillah
Kita, terutama saya, bermodal pengetahuan terbaru dan pemahaman mumpuni, terkadang merasa "superior" karena hal itu. Merasa dan merasa. Berani berkomentar begini dan begitu termasuk kepada yang lebih tua, menghakimi pemikiran mereka yang masih kolot dan konvensional. Lupa bahwa sebelum menjadi seperti itu, orang tua kita pun melewati angka usia kita sekarang dan disertai atmosfernya. Dunia usia 20an. Mereka yang lupa, atau kita?
Dididik menjadi generasi yang harus selalu lebih baik dari mereka, itulah saya dan teman teman. Itu harus, karena kewajiban orang tua kita adalah tidak meninggalkan generasi yang lemah, dan menjadi lebih baik dengan semangat yang sama adalah balas budi terbaik untuk mereka, menurut saya.
Semangat yang sama.
Hanya satu hal yang tidak bisa kita melebihi orang tua kita, selebih lebihnya kita: pengalaman.
Apapun itu, usia saya masih 20. Asin garam pahit kehidupan belum sebanyak yang orangtua telan, walau tahu bahwa rasa garam itu asin.
Kita gak pernah tau, apa pencapaian orang tua kita di usia yang sama. Kalaupun tahu, kita tidak pernah tau bagaimana usaha mereka untuk pencapaian itu. Kalaupun tahu, kita tidak pernah merasakannya. Kalau pun sama, rasa yang dinikmati belum tentu sama.
Orangtua kita hanya bercerita. Tidak bisa mendatangkan pengalaman yang sama, ataupun rasa yang sama dengan pengalaman berbeda.
Orangtua kita hanya bercerita. Tentang pentingnya semangat (yang harus dipunya oleh) kita.
Asy syahid Hasan Al Banna berkata, "Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, di mana ada yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh dan terus berdiri lagi. Kamu tidak boleh menjadi “plagiator” dan angkatan lama, dan tidak boleh pula menepuk dada serta meniadakan segala harga dan nilai, jasa dan karya dan angkatan lama.
Mereka kaya dengan pengalaman, engkau kaya dengan cita-cita. Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu!
Sejarah ini telah lama berjalan bergerak dan berkembang. Kamu hanyalah tenaga penyambung menyelesaikan bengkalai yang belum selesai. Meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dan keturunan yang satu kepada keturunan yang lain, angkatan kemudian angkatan."
Orangtua kita hanya menaruh harapan pada kita. Tentang niat dan semangat serta cita-cita yang harus terus disambung.
Duhai anak muda, diri yang katanya muda, orangtua adalah wujud kasih sayang yang tidak pernah berhenti menaruh harapan, juga mengkhawatirkan si muda. Bukan hanya tentang, "kalau saya mati, bagaimana mereka akan hidup?" Tapi juga, "siapa yang akan meneruskan cita-cita luhur ini?" Atau lebih jauh lagi, "apakah saya dan mereka bisa saling menyelamatkan kelak?"
Wahai diri, insyafi peranmu dalam peradaban.
Bandung, 3 Ramadhan 1438 H
#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
Komentar
Posting Komentar