Langsung ke konten utama

Refleksi: Hidup, Mati Sama Saja

Bismillah

Hari pertama Ramadhan, saya mendapat kabar berpulangnya seorang saudara jauh yang sempat saya tengok di rumah sakit beberapa minggu lalu.

Saya ingat, beberapa minggu lalu juga, saya dapat kuliah dari seorang spesialis forensik tentang kematian. Kuliah yang sering kami sebut (Nama dokternya) show. Beliau yang sanggup berbicara hampir 4 jam tanpa slide, tanpa henti, bukan pidato, tapi "cuci otak".

Awalnya, kami membahas tentang bunuh diri. Tentang cara yang benar untuk bunuh diri. wkwkwkw. Kalau bunuh diri itu halal, kami bisa membuat buku tentang cara bunuh diri yang benar, cepat, dan efisien. Kalau bunuh diri itu halal, maka akan banyak orang yang melakkukannya. Sudah diperbolehkan agama, masalah hidup juga selesai kan?

Dalam kuliahnya, dan juga dalam literatur, beliau bilang bahwa ada 5 definisi mati di dunia kedokteran. Yang dianggap mati betulan oleh seorang dokter adalah ketika batang otak mati. Tapi, pasien di ICU juga mati, mati dalam definisi lain. Tapi, orang mati suri juga mati, mati dalam definisi lain. 

Di satu sisi, orang mati yang mendonorkan organnya ke tubuh orang lain sebenarnya tidak mati, secara seluler. Sebab, fungsi kehidupan organnya dipertahankan dan digunakan pada orang lain (resipien). Jadi, orang tersebut (donor) mati dan hidup secara bersamaan.

"Tidak ada batas yang jelas antara hidup dan mati. Kalau begitu, hidup dan mati sama saja kan?"

Kami diam, mau tak mau mengiyakan.

"Saya tanya, kaliaan kalau disuruh memilih, mau mati nanti atau sekarang?" Semua memilih mati nanti.

"Loh, kenapa? Memang kamu hidup mau ngapain? Memang tujuan hidup kamu apa?" 
Ada yang bilang mau keliling dunia. Buat apa, kata beliau. Kamu cape-cape hidup buat tau dunia sebelah sana ada apa?

Bertanya pada yang lain, yang lain diam. Saya yakin, bukan karena tidak punya tujuan, tapi bingung aja lagi kuliah umum mau menjawab seperti apa...

"Kok diem.... gak punya tujuan? Buat apa hidup kalau gitu, mending mati kan.." kata beliau dengan intonasi khasnya. Akhirnya seseorang menjawab ala ala religius setelah ditanya oleh beliau tujuan hidupnya apa, "mau memperbanyak amal dok, biar nambah pahala,"
"kenapa mau memperbanyak amal?"

Diskusi panjang yang ujungnya, karena kami gak siap mati sebab sudah banyak berdosa.

Beliau bicara lagi, "kalian sudah umur berapa? Kalau dihitung dari usia harapan hidup, mungkin kalian sudah menempuh sepertiga perjalanan hidup kalian. Wah, sudah banyak dong amalnya! Ya sudah, mati sekarang saja! Kan amalnya sudah banyak."

Kami cuma diam dan senyum-senyum gak jelas, menertawai diri sendiri. 
Menangkap kontradiksi di hati kami, lalu beliau bertanya, "antara dosa dan pahala, mana yang lebih banyak kamu lakukan?"
Kami yakin, dosa kami yang lebih banyak. Tapi saat ditanya seperti itu di depan umum, siapa yang tidak malu mengakuinya? Tapi kenapa kami gak malu sama Allah?
Mau bilang pahala yang lebih banyak? PD bener dah.

"Kalau kamu memilih mati nanti dengan alasan dosa kamu lebih banyak dari pahalanya, kamu yakin dengan hidup lebih lama pahala kamu jadi lebih banyak? Atau bahkan nanti dosa dan pahala sama saja banyaknya yang artinya sama aja tidak ada perubahan? Atau justru dosa kamu yang semakin menggunung?"

Jleb. Kami diam, sambil menertawai diri sendiri (lagi).

"Nah, jadi buat apa memilih hidup lama kalau gitu? Kalau tujuan hidup gak punya. Kalau punya tujuan hidup untuk memperbanyak pahala, tapi pada kenyataannya malah dosa yang bertambah."
"Buat apa hidup, kalau kamu hidup gak ada bedanya dengan orang mati. Bahkan orang mati lebih baik karena dosanya jadi tidak bertambah."

Mati menjadi lebih baik, tapi kita tidak siap menghadapinya. Bukan tidak siap mati, pada dasarnya kita tidak siap (di)hidup(kan) kemudian. Sebab setelah hidup yang itu, tidak akan ada mati lagi.

Bandung, 1 Ramadhan 1438 H

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara


Komentar

  1. Semoga saat kelak dipanggil Allah, kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin..


    www.asysyifaahs.com

    BalasHapus

Posting Komentar