Langsung ke konten utama

Cerita Jaga Empat

Bismillah

Ada satu bayi yang saya dititipi untuk melakukan rekam jantung. Rekam jantung sebenarnya bukan hal yang sulit, tapi menjadi sulit lagi ketika saya harus melakukannya kepada seorang bayi yang belum bisa diajak untuk kooperatif.

Berbagai cara sudah dilakukan mulai dari memberinya susu, bikin dot2an, dielus-elus, tapi bayi tetap saja bergerak tidak bisa diam. Semenatar untuk menghasilkan rekam jantung yang bagus, dia harus tenang. Kadang dia menangis. Saat dia tertidur, ketika kami menempelkan lead, dia yang sensitif malah terbangun dan malah merusak karya kami. Atau ketika dia sudah tenang, namun ada bayi tetangga yang nangis, maka dia tidak mau kalah dalam kompetisi menangis itu.

Akhirnya, jam setengah 4 subuh, 11 jam dari awal kami berniat merekam jantungnya, dia berhasil tidur dengan tenang. Kami berusaha setenang mungkin, benar-benar fokus memasangkan alat rekam jantung agar ia yang sensitif ini tidak bangun dan menangis.

Saking fokusnya, kami tidak menyadari bayi di sebelahnya lupa bernafas, dan akhirnya henti nafas. Entah sudah berapa lama dari henti nafas itu, dokter segera meresusitasi dan menyiapakan alat untuk melakukan intubasi.

Karena fokus pada rekam jantung, kami jadi tidak memperhatikan kondisi yang lain.

Hamdalah, bayi berhasil diselamatkan walaupun nafasnya masih terus dibantu. 

Ya begitulah, emergensi adalah tempat melatih kepekaan kami terhadap kondisi pasien, mana yang gawat dan mana yang darurat. Mana yang penting dan mana yang genting. Saya sadar, kepekaan saya masih tumpul, buktinya ya tadi, sampai tidak sadar bayi sebelah tiba-tiba apneu. 

Belajar menjadi peka, terhadap orang lain dan lingkungan. Semoga Allah tidak menumpulkan kepekaan saya terhadap petunjuk-Nya

Bandung, 20 Ramdhan 1438

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

" Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja," a quote by Buya Hamka Sebagai (calon) penyedia jasa kesehatan, saya akan berinteraksi dengan jasad dan nyawa manusia. Saya akan berinteraksi dengan hidup dan kehidupan orang lain, sampai mungkin ada saat tanggungjawab hidup dan kehidupannya ada di tangan yang kecil ini. Memikirkanya saja lelah dan berat.  Suatu waktu sesorang bertanya pada saya, "bagaimana rasanya mempelajari hidup manusia?" Saya jawablah saat itu, kurang lebih begini, "Rumit. Wajarlah seorang Moore masuk islam karenanya, tapi ga membuat seoramg atheis yang lain percaya bahwa dirinya diciptakan. Saya sendiri tak tahu apakah menjadi bertambah yakin atau tidak karena pemikiran saya sudah terset bahwa saya adalah makhluk yang tercipta. Hmmm selebihnya banyak bersyukur karena saya diciptakan dengan sempurna dalam artian untuk menjalankan hidup. Rumit, karena banyak hal dari hal seabst...

Cerita Jaga Tujuh

Bismillah Waktu di stase anak ini, tempat jaga kami antara 3 tempat: igd, ruang rawat kenanga, atau ruang perinatal anthurium. Kata yang sebelumnya sih, paling enak jaga igd kalau mau yang jelas, atau jaga kenanga kalau mau gabut. Yang jelas, gak jaga peri. Tapi, justru saya lebih suka jaga peri. Walau disuruh ambu, disini lebih terhibur matanya dengan lihat dedek dedek bayi emesh innocent walau mereka nangis-nangis dan ada yang harus diambu, bayi baru lahir memang terlihat bersih dari dosa secara nyata. Ada neglected baby, si bayi kiki, sudah 4 bulan di ruangan peri. Jadi senior dan chief of baby di anturium. Gaya tidurnya udah like a boss. Badannya gembil, karena sering dirawat sama perawat bayi disini. Jadi alasan kami mau jaga peri. Kami gendong-gendong, kami isengin, kami toel-toel pipi gembilnya, kami videoin dan masukin ke instastories, dan sudah kami aku jadi anak masing-masing. Kasihan, sudah 4 bulan gak diambil-ambil si kiki ini. Ada yang bilang karena ibunya sudah meni...

Moments

Bismillah Momen kumpul keluarga yang aku suka adalah saat di perjalanan dan makan bersama di luar. Satu mobil berisi sepuluh orang. Aku melihat semuanya tumbuh dan berkembang, sebab mobil terasa semakin sempit di tiap perjalanannya. Dan juga obrolan di meja makan yang tiap hari makin berbobot.  Di rumah, kami jarang kumpul. Semua anak ibu sedang di masa punya kesibukan masing-masing, tinggal 2 bocah kecil yang sering main di rumah.  Si sulung kadang ada di rumah, tapi kalau di rumah kerjanya nonton dan diam di kamar atau bantu masak. Si anak kedua, gadis yang suka pergi pagi pulang malam, bahkan kadang tidak pulang, begitu pula si anak ketiga yang lagi macem-macem ikut kegiatan di kampus. Si anak keempat, sejak punya motor, setelah pulang sekolah atau lagi libur pasti pergi. Si anak kelima, sering kongkow sama temen-temennya. Si anak keenam, lagi ingin main2 juga ke rumah temennya. Lalu saat datang ke rumah, yang tersisa hanys capek, lelah, lapar, dan ngantuknya. La...