Langsung ke konten utama

Cerita Jaga Dua

Bismillah

Ada anak bayi baru beberapa bulan, kondisi nya buruk, mengharuskan dirinya dipasang selang intubasi. Dokternya bilang adik bayi ini gagal jantung. Orangtuanya cuma bisa berdoa dan diminta buat nunggu diluar ruangan saja. Jadilah dedek bayinya ditemani medis dan paramedis.

Selang yang terpasang tidak hanya selang intub saja. Ada selang makan lewat hidung, juga 2 infusan yang masing-masing infusannya dipasang 3 way.

Karena picu penuh, lalu kalau dirujuk ke rs yang ada picunya pun kondisi pasien masih belum stabil, jadi mau gak mau dek koas ini yang harus jadi ventilator. Sebagai dek koas, saya cuma bisa pasrah (dan ini lebih mending sih dibanding jaga pertama saya kemarin).

Sebenarnya yang bikin kesel jadi ventilator itu kalau udah pegel. Ngebosenin. Tapi kasarnya kondisi hidup mati pasien ada di tangan pengambu ini, jadi ini bukanlah tugas yang sepele. Singkat cerita, saturasi pasien semakin turun dan kemudian selang intubasi harus dipasang yang baru karena setelah diangkat rupanya penyebab turunnya saturasi adalah karena selang intubasinya terhalang gumpalan darah yang tidak bisa di suction.

"Haduh kasian dek, ini diintubasi yang ketiga kalinya." Saya kaget, rupanya saat saya lagi istirahat dedek bayi ini udah diintubasi lagi. Terus ketika akan dimasukkan obat, rupanya selang infusnya sudah lepas, jadi harus pasang infus lagi yang kalau kalian mau tau, pasang infus dedek bayi itu setengah mati.

"Duh deek yang kuat ya, hidup perjuangan teh sudah dirasakan oleh dedek sejak lahir" kata salah seorang perawat.

Iya, perjuangan hidup itu sudah dimulai sejak kita lahir.  Bahkan, saya pernah nonton video tentang kehamilan, bahwa perjuangan hidup dimulai dari sejak konsepsi. Bagi orang tua, hamil adalah perjuangan. Mulai dari menjadi hamil, mempertahankan kehamilan, lalu melahirkan, adalah perjuangan. Kemudian dedek bayi ini harus hidup dengan keadaan yang secara fisik kurang lengkap, adalah perjuangan. Bisa hidup hingga detik ini adalah perjuangan baginya.

Dibalik dedek bayi ini, ada orangtua yang hebat dan kuat. Bisa dibayangkan berapa banyak uang, waktu, dan hal lain yang dikorbankan. Untuk berjuang banyak hal yang dikorbankan, itulah berjuang. 

Percaya, masih bernafasnya dedek bayi walaupun masih dibantu, adalah rezekinya. Ketika Allah meniupkan ruh pada jasad, maka Allah lah yang memberikan kehidupannya. Allah lah yang memberikan rezekinya. Dan rezeki tidaklah harus selalu berupa materi, tapi oksigen yang bisa dihirup dengan baik adalah rezeki sebuah kehidupan.

Lalu kenapa diri yang diberi mudah dan lengkap ini tidak mau berjuang?

Bandung, 9 Ramadhan 1438

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Komentar