Bismillah
Jaga kali ini saya kebagian di ruang rawat dedek bayi yang baru lahir. Disebut baru lahir, ketika usianya kurang dari 28 hari.
Dari total 16 bayi yang ada.. ada 2 bayi yang butuh perhatian khusus. Bayi pertama, bayi dengan diagnosis NEC (necrotizing enterocolitis) grade 3. Kondisi dedeknya udah jelek banget, udah syok sepsis. NEC berarti ususnya sudah mengalami kematian dan perforasi sehingga udara keluar dan perut dedeknya jsci kembung. Dedek baru berusia 3 hari dan akan naik ke meja operasi, namun kondisinya belum stabil. Dedek ini harus kami beri ventilasi tekanan postif a.k.a dek koas ngambu lagi. Selama kami ngambu dari jam 4 sore, kondisi dedeknya stabil, saturasi oksigen selalu diatas 97%, laju nafasnya baik, takikardi lama-lama berkurang. Tapi kemudian, saat saya baru kembali dari shift istirahat, dedek bayi nya sudah berwarna biru. Dia sudah pulang kepada pemiliknya.
Dedek bayi kedua, dia lahir prematur dan parunya belum matang sempurna. Tugas kami bukan ngambu, tapi mengingatkan dia agar tidak lupa bernafas. Iya, dedek bayi ini suka lupa kalau dirinya harus bernafas, jadi harus selalu diingatkan dengan cara memberikan rangsang taktil saat dia tiba-tiba berhenti nafas.
Setelah dedek yang pertama meninggal, di ruang bersalin, lahir 2 orang bayi kembar yang sehat walau persalinan dibantu dengan forceps. Dedek bayi yang kemudian langsung dijemput ayahnya, lalu saya gendong sampai ke ruang dedek bayi.
Disaat yang sama, ada dedek bayi yang sudah 4 bulan ditinggal disana oleh orangtuanya. Orangtuanya tidak mengambilnya, ia terlantar sehingga perawat-perawat yang disana yang jadi perpanjangan tangan Allah untuk menjaganya. Ia terlantar. Tapi biar begitu, dedek bayi iti tetap terlihat sehat dan tetawat layaknya dedek bayi yang lain.
Begitulah Allah mempergilirkan kehidupan dan kematian. Saat meninggal, orangtua dedek bayi sedih, buah hamil yang berusaha dijaganya, kemudian hanya hidup 3 hari dan dibantu, sudah pergi duluan, padahal datang lebih belakangan. Saat lahir, orangtua dedek bayi senang, buah hamil yang berusaha dijaganya, akan dilanjut usaha penjagaannya oleh kedua orangtuanya.
Begitu pula Allah yang memberikan kehidupan pada tiap yang bernyawa. Allah yang memberikan mati pada tiap yang bernyawa. Allah yang memelihara hidup kita, bukan orangtua kita, pun bukan diri kita sendiri. Sebab sudah bertahun-tahun, Allah lah yang mengingatkan dan menggerakan seluruh sistem dalam tubuh kita untuk tetap bekerja sesuai porsinya. Bukan kita yang mengaturnya, bukan kita yang memerintah paru dan jantung kita.
Jadi, tetaplah bersyukur kepada Allah, karena Dia tidak membuatmu lupa bernafas.
Bandung, 11 Ramadhan 1438 H
#RamadhanIsnpiratif
#Challenge
#Aksara
Komentar
Posting Komentar