Bismillah
Waktu di stase anak ini, tempat jaga kami antara 3 tempat: igd, ruang rawat kenanga, atau ruang perinatal anthurium.
Kata yang sebelumnya sih, paling enak jaga igd kalau mau yang jelas, atau jaga kenanga kalau mau gabut. Yang jelas, gak jaga peri. Tapi, justru saya lebih suka jaga peri. Walau disuruh ambu, disini lebih terhibur matanya dengan lihat dedek dedek bayi emesh innocent walau mereka nangis-nangis dan ada yang harus diambu, bayi baru lahir memang terlihat bersih dari dosa secara nyata.
Ada neglected baby, si bayi kiki, sudah 4 bulan di ruangan peri. Jadi senior dan chief of baby di anturium. Gaya tidurnya udah like a boss. Badannya gembil, karena sering dirawat sama perawat bayi disini. Jadi alasan kami mau jaga peri. Kami gendong-gendong, kami isengin, kami toel-toel pipi gembilnya, kami videoin dan masukin ke instastories, dan sudah kami aku jadi anak masing-masing. Kasihan, sudah 4 bulan gak diambil-ambil si kiki ini. Ada yang bilang karena ibunya sudah meninggal. Ada yang bilang sengaja ditinggal. Ada yang bilang karena belum lunas biaya RS. Dan ada yang bilang lain lagi, yang jelas semuanya asumsi. Kenapa begitu?
Sebab, kini ibunya datang. Saat aku sedang jaga, tapi aku gak sempet lihat ibunya karena lagi follow up dedek bayi di ruang lain. Akhirnya si kiki gembil dijemput ibunya. Temanku langsung broadcast di grup tentang berpulangnya kiki ke pangkuan ibunya. Semuanya sedih, sebab ada yang belum sempat gendong si kiki. Sebab jadi tidak ada lagi alasan kami jaga peri.
Ah haru memang. Lalu temanku bilang, "selain si kiki, adalagi neglected baby yang kedua, udah 2 bulan disini."
Sedih ya, padahal saya yakin. Pandangan setiap orang terhadap bayi itu sama -kecuali ibunya lagi postpartum blues atau depresi pascasalin sampai ada gejala psikotik- bahwa dedek bayi baru lahir itu menenangkan karena kesuciannya. Ya, terlihat bersih dari dosa secara nyata.
Dah kiki, bayi yang sudah mandiri sejak dini.
Bandung, (untuk) 27 Ramadhan 1438
#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
Waktu di stase anak ini, tempat jaga kami antara 3 tempat: igd, ruang rawat kenanga, atau ruang perinatal anthurium.
Kata yang sebelumnya sih, paling enak jaga igd kalau mau yang jelas, atau jaga kenanga kalau mau gabut. Yang jelas, gak jaga peri. Tapi, justru saya lebih suka jaga peri. Walau disuruh ambu, disini lebih terhibur matanya dengan lihat dedek dedek bayi emesh innocent walau mereka nangis-nangis dan ada yang harus diambu, bayi baru lahir memang terlihat bersih dari dosa secara nyata.
Ada neglected baby, si bayi kiki, sudah 4 bulan di ruangan peri. Jadi senior dan chief of baby di anturium. Gaya tidurnya udah like a boss. Badannya gembil, karena sering dirawat sama perawat bayi disini. Jadi alasan kami mau jaga peri. Kami gendong-gendong, kami isengin, kami toel-toel pipi gembilnya, kami videoin dan masukin ke instastories, dan sudah kami aku jadi anak masing-masing. Kasihan, sudah 4 bulan gak diambil-ambil si kiki ini. Ada yang bilang karena ibunya sudah meninggal. Ada yang bilang sengaja ditinggal. Ada yang bilang karena belum lunas biaya RS. Dan ada yang bilang lain lagi, yang jelas semuanya asumsi. Kenapa begitu?
Sebab, kini ibunya datang. Saat aku sedang jaga, tapi aku gak sempet lihat ibunya karena lagi follow up dedek bayi di ruang lain. Akhirnya si kiki gembil dijemput ibunya. Temanku langsung broadcast di grup tentang berpulangnya kiki ke pangkuan ibunya. Semuanya sedih, sebab ada yang belum sempat gendong si kiki. Sebab jadi tidak ada lagi alasan kami jaga peri.
Ah haru memang. Lalu temanku bilang, "selain si kiki, adalagi neglected baby yang kedua, udah 2 bulan disini."
Sedih ya, padahal saya yakin. Pandangan setiap orang terhadap bayi itu sama -kecuali ibunya lagi postpartum blues atau depresi pascasalin sampai ada gejala psikotik- bahwa dedek bayi baru lahir itu menenangkan karena kesuciannya. Ya, terlihat bersih dari dosa secara nyata.
Dah kiki, bayi yang sudah mandiri sejak dini.
Bandung, (untuk) 27 Ramadhan 1438
#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
Komentar
Posting Komentar