Langsung ke konten utama

Cerpen: Pesantren (1)

Bagi Hiru, ini adalah hukuman yang diberikan Bundanya. Mengirimnya ke tempat seperti ini, berarti kemarahan. Apalagi dengan kalimat, “Tidak usah pulang. Biar Bunda saja yang kemari.” Ia diusir dan tidak disayang lagi. “Aku di penjara,” gumamnya.

Anak bungsu ini dikirim ke sebuah pesantren di Jawa setelah didepak dari sekolahnya. Sekolah yang tidak tahu malu, katanya. Berani mengeluarkan seorang siswa berprestasi yang menyebarkan aroma harum sekolah. Hiru adalah seorang pahlawan sekolah di bidang olahraga dan matematika. Namun, saat pemilihan ketua OSIS, ia adalah seorang pecundang yang memalsukan tanda tangan dan kemudian berani meneriakkan kata-kata kasar di hadapan Yang terhormat kepala sekolah. Rupanya, Hiru seorang yang lebih berani. Dan Bundanya lebih berani, menerima bahwa anaknya memang bersalah dan kemudian menyekolahkannya ke ‘penjara suci’. Tidak, Bundanya bukan berani melainkan malu karena melahirkan pahlawan tak beretika.

Sore itu, Bang Ghan datang menemui adiknya. “Hai Ustadz, apa kabar?” Sapaan pertama untuk Hiru. Wajarlah, hari itu hari Jumat dan santri diwajibkan mengenakan koko dan sarung. Hiru menyadari bahwa itu adalah ledekkan untuknya. Dan ia menyadari, itu kali pertama Bang Ghan mengunjunginya ke pondok. Sendirian.

Hiru mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah bangku taman pondok. “Bang ada apa kemari?” Hiru langsung menanyakan maksud kedatangan abang semata wayangnya. “Gimana, betah?” tanyanya. “Ya, mau bagaimana lagi Bang.” Sudah dua tahun tanpa pulang ke rumah, Hiru tidur di penjara suci itu. Sebagai seseorang yang mudah bergaul, adaptasi dan survival di tempat seperti itu bukanlah hal yang sulit baginya. “Tapi kudengar tadi dari gurumu, pada awalnya kau berontak lagi disini,” Bang Ghan meledek lagi. Hiru mengacak rambutnya sendiri, sambil menoreh ke arah lain, sedikit-dikit melirik abangnya. “Kenapa, mau marah juga?” Takut. Pasalnya, Marahnya Bang Ghan sama menakutkannya dengan marahnya Bunda baginya.

Bang Ghan tidak marah. Baginya, Hiru sudah dewasa. Dua tahun tidak pulang dan diam disini pasti berhasil membuatnya berubah. Itu terlihat dari catatan santrinya, dan ucapan gurunya saat sebelumnya Bang Ghan bertanya perkembangan Hiru selama disini, terutama tentang etikanya. “Pada awalnya ia tidak mau menurut aturan. Waktu kutanya, ia tidak mau masuk pesantren. Baginya, masuk pesantren menghalangi cita-citanya menjadi seorang insinyur, menjadi seorang menteri, dan terlebih belajar ke LN. Ia masuk sini karena tidak bisa melawan hukuman Bundanya. Ia tidak masalah bercerita tentang sebab ia dikeluarkan dari sekolahnya saat itu.”

“Kamu bilang ingin sekolah di LN kan? Kurasa kamu lebih tahu bahwa banyak alumni sini yang kuliah di LN. Hai pahlawan sekolah, bahkan banyak pahlawan negeri ini saja lahir dari tempat yang kau sebut penjara ini.

Kamu berada dimana Tuhan ingin menempatkanmu. Ini adalah jalan menuju takdirmu.

Sepertinya ini tempat yang cocok untuk orang sepertimu Bang.

Ini bukan hukuman. Ini hadiah untukmu. Karena Bunda tahu kau ini sangat pandai dan mampu untuk kuliah di LN sesuai keinginanmu. Tapi kau harus tahu bahwa dunia di luar sana itu lebih keras dari yang kau bayangkan. Mungkin Bunda tidak bisa selamanya mengawasi dan menjagamu, karena jarak, dan juga waktu. Karena itu, ini hadiah dari Bunda, agar kau bisa menjaga diri kelak." 

"Ayo pulang. Bunda sakit." Bang Ghan akhirnya mengutarakan maksudnya datang ke tempat Hiru


Dua kalimat itu malah membuat Hiru semakin sedih. 

Bersambung

Bandung. (untuk) 26 Ramadhan 1438 

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Komentar