Langsung ke konten utama

Hidup

"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja," a quote by Buya Hamka

Sebagai (calon) penyedia jasa kesehatan, saya akan berinteraksi dengan jasad dan nyawa manusia. Saya akan berinteraksi dengan hidup dan kehidupan orang lain, sampai mungkin ada saat tanggungjawab hidup dan kehidupannya ada di tangan yang kecil ini. Memikirkanya saja lelah dan berat. 

Suatu waktu sesorang bertanya pada saya, "bagaimana rasanya mempelajari hidup manusia?" Saya jawablah saat itu, kurang lebih begini, "Rumit. Wajarlah seorang Moore masuk islam karenanya, tapi ga membuat seoramg atheis yang lain percaya bahwa dirinya diciptakan. Saya sendiri tak tahu apakah menjadi bertambah yakin atau tidak karena pemikiran saya sudah terset bahwa saya adalah makhluk yang tercipta. Hmmm selebihnya banyak bersyukur karena saya diciptakan dengan sempurna dalam artian untuk menjalankan hidup. Rumit, karena banyak hal dari hal seabstrak gen sekecil molekul hingga seluas interaksi manusia, saya harus mempelajarinya," 

"Lalu, apakah dipelajari juga bagaimana manusia harus hidup?"

Kupikir, itu ilmu fardhu ain, bukan kifayah seperti menjadi seorang tabib. 

Lihatlah bahwa yang hidup harus memiliki kehidupan. Dimana dan bagaimana yang beragam. Tapi beragam itu harus punya keseragaman, yaitu hidup yang harus memiliki tujuan, yang harus sesuai dengan fitrah penciptaan manusia. 

Kalau kata Rabb, "dunia hanya permainan dan senda gurau," dunia yang mana?

Kehidupan seperti apa yang seharusnya saya jalani? Ketika banyak hal yang ingin saya capai, banyak keinginan, banyak keinginan, banyak kemauan, dan kehendak?

Manusia, makhluk yang Allah muliakan dengan potensi jasmani ruhani aqliyah dengan hudan, namun menjadi paradoks karena dia dengan nafsunya bisa jadi seperti kera, anjing, dan lebih rendah dari binatang ternak. 

Mari hidup yang berbeda dari kera dan babi hutan!

Bandung, (untuk) 29 Ramadhan 1438

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Komentar