Bismillah
Halo, kamu. Diriku di tahun 2022. Dalam keadaan apa kau membaca suratku?
Aku berharap kau selalu dilimpahi
kesehatan hingga detik kau membaca surat ini. Sehat, barang yang akan selalu
kau perjuangkan. Yang kamu tahu sejak kau menjadi seorang mahasiswa kesehatan adalah
barang paling mahal sedunia. Ini aku, dirimu lima tahun yang lalu. Seorang anak
muda ‘baperan’, si melankolis yang
semakin melankolis karena baru saja menonton sebuah drama medical. Drama yang dimana saat aku menontonnya aku seperti sedang
melihat masa depanku, alias dirimu. Kuharap, kau masih menyukai genre drama yang sama. Dan kuharap, kau
sudah sehebat mereka J
Aku berharap kau masih bisa
mencium punggung tangan bapak dan ibu, yang berhasil membentuk pribadi baikmu,
menemani perjalananmu mencapai pengabdian doktermu. Kau tahu bahwa tidak semua
orangtua sebaik mereka yang memberikan anaknya untuk diabdikan pada ummat.
Aku berharap kau masih bisa
melihat adik-adikmu tumbuh besar bahagia dengan aktivitas-aktivitasnya, walau kau
ingat, sejak saat ini, aku pun sudah jarang berbicara dengan mereka. Kuharap
mereka menjadi adik-adik yang lebih baik dari diriku saat ini, anak bangsa yang
patut dibanggakan sesuai karpet merah yang mereka inginkan. Aku pun berharap
hubunganmu dengan kakak semakin baik dan bersama menjadi perisai keluarga.
Diriku, apakah kau masih ingat
dengan selembaran kertas dibalik pintu lemari bukumu, tentang beberapa harapan
yang ingin kau capai?
Biar kuingatkan beberapa bila kau
lupa.
Aku berharap kau semakin cantik,
luar dan dalam. Semakin baik dan tegas. Lingkaran pertemananmu semakin luas,
walau kau tahu bahwa pasti akan ada saja orang yang tak suka denganmu. Tetaplah
bersangka dan berlaku baik padanya.
Aku berharap, koleksi pandamu
semakin banyak. Dan koleksi yang paling berharga adalah foto bersama panda yang
kau lihat dengan matamu sendiri secara langsung, setelah kau sebelumnya
menelusuri Tembok Cina, salah satu bangunan keajaiban yang kau kagumi
sejarahnya.
Aku berharap kau masih rajin
menulis di blog walaupun ku yakin pasti masih lebih banyak tulisan tidak
penting yang kau tulis, seputar perasaan-perasaan yang orang lain mungkin tidak
mau tahu. Biar pun begitu, kuharap tulisanmu itu tidak pernah mati, karena kau
paham bahwa itulah harta karunmu, yang mungkin ada saatnya bisa menembus
beberapa atau bahkan banyak pemikiran dan menggerakan banyak ruh, seizin Tuhan.
Karena tulisanmu berbicara lebih banyak dari lisanmu.
Aku berharap kau sudah bersama
dengan orang terbaik yang Tuhan tetapkan untukmu, dan kau sedang jalan-jalan
atau menuntut ilmu bersamanya di negeri yang kau impi-impikan, Jepang.
Aku berharap adik-adik lingkaran
dalammu sudah mengepakkan sayap-sayap indahnya. Adik-adik non biologis yang
kini sedang aku wariskan nilai-nilai luhur idoelogis yang kekhawatiranku pada
mereka seperti kepada adik kandungku sendiri.
Aku berharap kau semakin aktif
berkegiatan sosial bersama teman-teman terbaikmu. Tidak terpengaruhi oleh
keadaan ekonomi ataupun keadaan fisik yang pasti selalu melelahkan. Sertakan
jiwamu sehingga rasa senangnya bisa mengalahkan rasa lelahmu.
Aku berharap kau baik-baik saja
di tengah kesibukanmu sebagai dokter. Aku berharap kau menjadi dokter yang kau
impikan. Menjadi seperti dokter-dokter di film-film drama yang kau tonton. Menjadi
sehebat guru-gurumu dahulu. Menjadi seorang ahli di bidang yang kau inginkan. Menjadi
penulis handal. Menjadi cahaya matahari yang menumbuhkan bunga-bunga harum. Dan
yang terpenting adalah bermanfaat buat sesama, seluhur nilai profesimu.
Terakhir, aku berharap kau
semakin bersemangat untuk menjalani hidup setelah membaca surat ini. Karena aku
tak tahu apakah kau sudah bersama harapan-harapan itu atau belum. Jangan patah
bila kau tidak seperti inginku hari ini, karena bagaimana pun ku yakin bahwa
kau pasti jauh lebih baik dan kuat dari diriku hari ini. Seberapa banyak perih
yang telah kau hadapi dari sejak aku menulis hingga kau membaca surat ini dan
seberapa banyak air mata yang harus keluar lagi yang akan kau hadapi nanti.
Karena dipercayai harapan memang
berat tapi menjadi sumber motivasi yang kuat. Sekali lagi, kau sudah melalui
banyak lelah letih, banyak canda tawa, banyak kemudahan dan kesulitan, banyak
senang dan sedih, tak mungkin kau masih seperti aku disini. Jangan mengatakan
bahwa aku terlalu berekspektasi lebih, tapi ku tulis ini karena banyak yang
mempercayaimu. Kalaupun tidak, siapa lagi selain aku yang harus percaya?
Berharaplah kepada Tuhan, biar
tiada rasa kecewa. Semoga Tuhan memeluk harapan-harapan terbaikmu.
Dari hadi, calon dokter yang sedang berusaha
menjadi dirimu saat kau membaca surat ini.
Bandung, 21 April 2016, diedit (untuk) 24 Ramadhan 1438
#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
Komentar
Posting Komentar