Bismillah
Awalan: Akhwat yang Mandiri
Ada satu keadaan saya diminta agar punya dan bisa membawa motor. Ketika itu, bagi saya bisa berkendara bukan kebutuhan primer. Saya selalu "didesak", dirayu dengan segudang manfaat bisa berkendara. Masalahnya, saya seorang penakut. Saya belum bisa mengendarai motor saat itu dan takut untuk mencoba, padahal sudah hampir menginjak kepala dua. Akhirnya saya mencoba untuk memberanikan diri, belajar berkendara, disaat teman-teman saya sebagian besar sudah bisa.
Hinga adalagi suatu keadaan, ketika lagi kuliah, teman saya tiba-tiba dismenore ketika akan mulai praktikum. Akhirnya dokternya meminta salah seorang dari kelompok kami untuk mengantarnya ke asrama (atau klinik ya saya lupa tepatnya) untuk mengambil obat. Dokter meminta agar teman laki-laki yang mengantarnya dengan motor. Saya tahu, teman saya yang laki-laki itu bingung, dia adalah orang yang menurut saya cukup paham tentang batasan laki-laki dan perempuan. Tapi di satu sisi, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menawarkan diri untuk mengantarnya sebab saya tidak bisa mengendarai motor.
Semenjak saat itu, saya bertekad untuk bisa mengendarai motor. Walaupun orangtua memandang bahwa bagi saya motor belum menjadi kebutuhan, setidaknya saya bisa membawa motor.
Ketika saya sudah bisa (tapi belum lancar), saya pernah meminjam motor teman saya, lalu tiba-tiba saya menabrak mobil dan terjadilah kejadian tidak diinginkan. Saya menangis dan tidak mau belajar dan berusaha untuk mengendarai motor lagi. Hampir 1 tahun. Tapi teman saya tetap saja merayu dengan sejuta alasan yang intinya, saya harus bisa mengendarai motor.
Semakin hari, saya menyadari bahwa mobilitas saya sangat tinggi. Dengan perpindahan 30-50km setiap harinya, pasti akan lebih mudah dan efisien bila saya bisa mengendarai motor. Namun saya belum berani untuk memulai, dengan pakai alasan, "saya tidak punya motor. Saya gak mau merusak barang orang lagi" walaupun teman saya bilang, "nabrak bagi pengendara bukan hal luar biasa, jatuh bukan hal luar biasa. Jangan-jangan, kamu nya aja yang gak mau bisa"
Kemauan untuk bisa
Akhirnya saya iseng-iseng minta motor ke orangtua. Eh tak disangka, diiyakan, dengan syarat teknis baru boleh bawa setelah sim nya ada. Syarat sahnya, "Motornya dipakai untuk hal yang benar ya teh. Bukan buat gaya-gaya." Akhirnya sedikit-sedikit saya mulai melatih lagi kemampuan berkendara.
Sambil saya berfikir, pentingkah akhwat bisa berkendara?
Pentingkah Akhwat Bisa Berkendara?
Penting banget
Rasul pernah bilang, "Ajarilah anak-anakmu berkuda, memanah, dan berenang." Teman saya bilang bahwa berkuda disini mungkin saja bisa diartikan berkendara untuk era modern begini. Sebab kuda adalah salah satu alat transportasi zaman dahulu yang dipakai Rasul.
Dengan berkendara saya bisa mengurangi diri untuk berduaan dengan mang ojek, bisa mengantar teman-teman saya yang perempuan dengan nyaman, mobilitas lebih cepat, bisa menjalin silaturahim lebih mudah, tidak perlu minta jemput sehingga tidsk merepotkan ayah atau kakak atau adik saya. Ah, saya baru menyadari manfaat-manfaat itu.
Dengan motor, saya mencoba mendidik diri saya sendiri untuk lebih berani, mandiri, dan kuat.
Dalam perjalanannya, bukan hal yang mudah ternyata. Saya harus rajin merawat motornya. Baru juga berapa hari bawa motor setelah sim ada, harus jatuh sampai motornya lecet-lecet. Nabrak lah. Ngantukan habis jaga, kehujanan, bannya kempes, hampir nabrak orang, kasus pembacokan, dan lain sebagainya. Awalnya tiap hari saya semangat karena ke kampus jadi lebih cepat. Tapi semakin kesini, saya merindukan masa-masa jadi penumpang angkutan umum. Kalau ngantuk, saya bisa tidur atau melakukan hal lain. Kalau di motor kan gak bisa. Kalau hujan, ga kedinginan dan kebasahan. Kalau di motor kan enggak. Intinya ada fase saya tidak mensyukuri keadaan yang dulu saya pernah minta.
Saking tiap hari pergi dengan motor, track record saya berkendara dengan al adiyat (nama motor saya wkwkw) membuat saya diangkat secara de facto sebagai ketua geng motor. Walau sebenernya itu cuma lucu-lucuan dan fiktif.
Semakin kesini, saya lihat banyak perempuan sudah berkendara. Dan banyak keluhan datang, terutama dari pengendara mobil.
"Perempuan gak bener banget sih bawa motornya," atau keluhan, "duh ngagokan" "selap-selip aja gak sadar body" sampai ada meme "Saya berlindung dari ibu-ibu yang bawa motor nyalain lampu sen ke kiri tapi malah belok ke kanan"
Aku juga greget banget (pernah merasakan di posisi orang yamg dikagokin)
Temen saya bilang, "Tapi ketua geng motor gak gitu kan?"
Bukan hanya itu. Keluhan juga datang ketika tabrakan terjadi. Tidak ada yang mau mengalah dan malah marah-marah sampai keluar kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan. Kan suasananya malah makin panas.
Pokoknya, dunia permotoran dan lalu lintas liar yaaa wkwkw
Belum lagi, saya risih kalau lihat akhwat pakai kerudungm terus kerudungnya berkibar-kibar layaknya bendera, atau mereka yang pakai rok dibonceng tapi gak pakai celana. Disatu sisi motor bukan didesain untuk duduk menyamping. Jadi harus gimana?
Wah, saya jadi harus refleksi lagi. Sudah baik dan amankah saya berkendara? Sudahkah saya jadi pengendara budiman?
Untuk itulah saya tertarik untuk menulis tentang berkendara yang aman untuk perempuan, khusunya akhwat, atas dasar pengalaman saya dan teman-teman akhwat saya yang berkendara, terutama roda dua.
Akhirul kata, ini cuma pendahuluan aja (berasa skripsi jadinya). Di tulisan berikutnya baru saya akan mulai bahas tentang pengalaman-pengalaman saya "menjadi ketua geng motor."
Karena akhwat harus kuat, sebab ia adalah tiang negara.
Bandung, 7 Ramadhan 1438
#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
Komentar
Posting Komentar