Langsung ke konten utama

Tetap Konsisten Menulis

Dan inilah, yang saya khawatirkan pun terjadi.

Dengan sok sok an, saya menantang diri sendiri untuk mampu menulis selama 30 hari di bulan Ramadhan. Padahal di awal saya tahu kalau menulis itu butuh effort yang luar biasa. 

Meminjam kata Kang Dani, yang saya khawatirkan adalah ketika ekspirasi lebih panjang dari inspirasi, dari tarikan nafas yang kita siapkan untuk konsisten beramal. Tapi yang saya khawatirkan lebih dari itu, saya takut setelah ekspirasi malah apneu alias gak napas lagi.

Konsisten aka istiqomah itu susah ya ternyata :”)

Tulisan-tulisan saya, hanya diawal saja yang berhasil ditulis tepat waktu. Menjelang sepuluh hari kedua, saya hanya sempat menulis draft-draftnya saja, diedit bila sempat, di post bila luang. Menjelang sepuluh hari terakhir, konsistensi ini kalah dengan kesibukan, baru sempat merapel belakangan, jadi ya kualitasnya begini adanya.

Tapi, berhubung panitianya baik, saya rapel 10 tulisan terakhir dalam 3 hari. Maaf ya :”) Saya tau bahwa niat baiknya adalah melatih konsistensi. Tapi, dengan keterbatasan saya yang seperti ini, dengan kesempatan yang ada, saya mencoba untuk komitmen dengan mengejar ketinggalan saya untuk tetap membuat 30 tulisan. 

Maka, mengapa Allah lebih menyukai amal yang konsisten walau sedikit, rupanya rasanya seperti ini.

Tentang istiqomah, ia adalah salah satu pilar dalam beramal. Pernah dengar, tanda amalan diterima ialah kita yang kemudian konsisten menjalankannya? Iya, kita yang mampu untuk konssiten adalah semata-mata karena Allah mengizinkan kita, menerima amalan kita, untuk kemudian kita lakukan terus.

Ya Allah, terimalah amalan-amalan kami, walaupun sedikit kuantitas dan kualitasnya. Ya Allah, perkenankanlah kami untuk terus beramal shaleh.

Bandung, 1 Syawal 1438

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Saya gak tau kedepannya akan seperti apa tentang menulis. Seperti ada yang di pos sebelumnya -To Keep Write- saya akan terus belajar menulis dalam keterbatasan apapun, sebab ada kebutuhan di dalamnya. Kebutuhan itu sebab lisan saya tidak bisa bicara sebanyak tulisan saya, untuk menuntaskan kewajiban saya. Dan utamanya, untuk jujur terhadap diri sendiri, tidak peduli orang suka atau tidak dengan tulisan saya, terinspirasi atau tidak dengan tulisan saya, karena sebelum untuk orang lain, saya menulis untuk diri saya sendiri terlebih dahulu. 
So, blog ini mungkin akan ditinggal .. dan saya akan kembali di tulisanhdy.blogspot.co.id atau hadirabbani.tumblr.com dan juga di timeline line saya. Sampai bertemu dalam pikiran saya yang lain!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

" Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja," a quote by Buya Hamka Sebagai (calon) penyedia jasa kesehatan, saya akan berinteraksi dengan jasad dan nyawa manusia. Saya akan berinteraksi dengan hidup dan kehidupan orang lain, sampai mungkin ada saat tanggungjawab hidup dan kehidupannya ada di tangan yang kecil ini. Memikirkanya saja lelah dan berat.  Suatu waktu sesorang bertanya pada saya, "bagaimana rasanya mempelajari hidup manusia?" Saya jawablah saat itu, kurang lebih begini, "Rumit. Wajarlah seorang Moore masuk islam karenanya, tapi ga membuat seoramg atheis yang lain percaya bahwa dirinya diciptakan. Saya sendiri tak tahu apakah menjadi bertambah yakin atau tidak karena pemikiran saya sudah terset bahwa saya adalah makhluk yang tercipta. Hmmm selebihnya banyak bersyukur karena saya diciptakan dengan sempurna dalam artian untuk menjalankan hidup. Rumit, karena banyak hal dari hal seabst...

Cerita Jaga Tujuh

Bismillah Waktu di stase anak ini, tempat jaga kami antara 3 tempat: igd, ruang rawat kenanga, atau ruang perinatal anthurium. Kata yang sebelumnya sih, paling enak jaga igd kalau mau yang jelas, atau jaga kenanga kalau mau gabut. Yang jelas, gak jaga peri. Tapi, justru saya lebih suka jaga peri. Walau disuruh ambu, disini lebih terhibur matanya dengan lihat dedek dedek bayi emesh innocent walau mereka nangis-nangis dan ada yang harus diambu, bayi baru lahir memang terlihat bersih dari dosa secara nyata. Ada neglected baby, si bayi kiki, sudah 4 bulan di ruangan peri. Jadi senior dan chief of baby di anturium. Gaya tidurnya udah like a boss. Badannya gembil, karena sering dirawat sama perawat bayi disini. Jadi alasan kami mau jaga peri. Kami gendong-gendong, kami isengin, kami toel-toel pipi gembilnya, kami videoin dan masukin ke instastories, dan sudah kami aku jadi anak masing-masing. Kasihan, sudah 4 bulan gak diambil-ambil si kiki ini. Ada yang bilang karena ibunya sudah meni...

Moments

Bismillah Momen kumpul keluarga yang aku suka adalah saat di perjalanan dan makan bersama di luar. Satu mobil berisi sepuluh orang. Aku melihat semuanya tumbuh dan berkembang, sebab mobil terasa semakin sempit di tiap perjalanannya. Dan juga obrolan di meja makan yang tiap hari makin berbobot.  Di rumah, kami jarang kumpul. Semua anak ibu sedang di masa punya kesibukan masing-masing, tinggal 2 bocah kecil yang sering main di rumah.  Si sulung kadang ada di rumah, tapi kalau di rumah kerjanya nonton dan diam di kamar atau bantu masak. Si anak kedua, gadis yang suka pergi pagi pulang malam, bahkan kadang tidak pulang, begitu pula si anak ketiga yang lagi macem-macem ikut kegiatan di kampus. Si anak keempat, sejak punya motor, setelah pulang sekolah atau lagi libur pasti pergi. Si anak kelima, sering kongkow sama temen-temennya. Si anak keenam, lagi ingin main2 juga ke rumah temennya. Lalu saat datang ke rumah, yang tersisa hanys capek, lelah, lapar, dan ngantuknya. La...