Bismillah
Lelah! To describe this month
in a word
Regressive.. to describe this
year
Menjelang akhir tahun ini saya menyadari
hal-hal yang saya lakukan lebih kurang masih seputar dunia perkoasan. Ada hal
yang saya suka namun tidak saya lakukan tahun ini: menulis.
Rasanya tumpul … sekali. Saya
seperti mas mas mba mba penjaga pom bensin, “dari 0 ya!” kegelisahan itu muncul
ketika dua teman seangkatan saya sudah nikah .. eh ko ga nyambung. Maksudnya,
saya senang melihat banyak teman saya mendefiniskan masa depan mereka ini dan
itu. Sementara saya .. “yang penting beres koas dulu.” seperti satu dari
orang-orang yang tidak punya masa depan karena tidak punya rencana. Padahal
beres koas tepat waktu kan rencana saya dalam waktu dekat.
Jenuh, itu yang saya rasa. Saya
ingin sekali bisa apply kesana kemari, jalan-jalan, ikutan macem-macem
exchange, cuti dulu gitu, tapi keinginan saya “lulus tepat waktu” lebih besar.
Sebab menunda ini akan menunda banyak hal, dalam hemat saya. padahal belum
tentu juga sih.
Akhirnya saya menyadari, ada
keterbatasan dalam diri saya. Salah satunya, sudah lama sekali saya tidak
menulis sesuatu yang ilmiah. Terakhir kali menulis sesuatu yang sifatnya
ilmiah-non fiksi, adalah saat skripsi. Bahkan sejujurnya saya masih harus
berfikir beberapa detik waktu ditanya sama adik tingkat, “judul skripsi teteh
dulu apa?”
Singkat cerita, saya menjelajah
di dunia maya siapa tau ada lomba menulis apapun itu yang bisa saya ikuti. Saya
ingin mengukur kemamuan menulis saya. Sayangnya saya masih suka pilih-pilih,
macem “yang ini lombanya bayar,” atau “syaratnya banyak banget,” “hadiahnya gak
menarik” “tema tulisannya jauh dari kehidupan/passion saya, saya jadi gak bisa
nulis.” Ga salah sih kalau alasan yang terakhir, keterbatasan waktu membuat
saya gak bisa mencari tahu lebih dalam tentang tema tulisan yang bukan saya
banget. Ada nemu yang cocok, eh udah basi deadlinenya.
Akhirnya, pencarian gak sia-sia.
Menemukan sebuah lomba esai yang bisa saya ikuti sesuai kriteria saya: biaya
daftar gak mahal, deadline masih sebulan, syarat gak banyak, dan tema tulisan
cocok, walau hadiahnya gak besar-besar amat sih. Scoop nya juga kecil sih.
Tadinya saya nantangin diri untuk cari scoop yang lebih besar, tapi hati
berkata, “kamu kan mulai dari 0 lagi.” Yap benar.
Sebulan hey, saya mulai
memikirkan ide tulisan apa yang mau saya tulis. Akhirnya saya mulai menulis.
Stuck. Lalu saya buka file file usang di laptop. Saya menemukan ada file esai
yang saya buat setengah jadi. Gak saya terusin dan saya lupa kenapa. Pasti gak
jauh dari alasan basi: gak punya waktu buat nerusin, keburu basi deadline,
dlsb.
Ketika saya buka, saya terkejut
banget. B aja sih. Tulisan sekitar 1.5 tahun yang lalu itu, ide pokoknya sama
banget dengan tulisan yang saya buat saat itu. Ada banyak kesimpulan yang bisa
ditarik: kemampuan saya gak bertambah gak berkurang, pemikiran saya gak
bertambah gak berkurang, saya gak banyak baca, dan yang terakhir: saya rasa
prinsip saya gak banyak berubah. Kalau mau tahu tulisan itu tentang apa, itu
tentang idealism.
Walhasil, karena stuck, saya
kembangin aja dari tulisan lama itu. saya gak perlu memulai dari 0. Setidaknya
saya jadi punya sesuatu yang baru, bahwa saya rupanya tidak perlu memulai dari
0. Saya cukup melanjutkan semua hal tentang passion dan pemikiran saya. Kalau
saya punya tujuan pemikiran akhir, tulisan saya bisa tidak perlu sampai ujung
itu, cukup kepingan-kepingan milestone yang pada akhirnya akan jadi sebuah
cerita peradaban!
Jadi sebenarnya, saya cuma ngirim
tulisan lama yang diedit.
Beberapa hari kemudian, saya
dapat kabar bahwa esainya lolos 10 besar dan harus presentasi untuk tahap
selanjutnya, lusa. Kamu tahu, saya di sms sekitar jam 9 malam, saya baru baca
pas udah sampai kampus. Hari itu saya jaga dan besok saya harus presentasi tapi
saya belum siap apa-apa.. hari itu saya jaga. Saya jaga. Saya jaga. Saya jaga.
Saya jaga.
Akhirnya saya nyambi sambil jaga
sambil bikin slide. Untungnya temen jaga saya baik hati mau minjemin laptop.
Udah jaganya sama residen patologis lagi. Curhat.
Saya benar-benar gak PD
presentasi saat itu. saya datang telat 3 jam. Bahan presentasi baru jadi. Dan
saya gak latihan presentasi. Saya juga belum baca-baca bahan esai lagi. Saya
juga ngantuk. Parah sih. Ditambah lagi minder waktu lihat presentasi presentan
sebelumnya. Alhasil kacau semua hal dalam diri saya.
Jauh, jauh dari harapan sih
sebenarnya. Saya bertarget setidaknya dapat juara III, tapi dapatnya harapan
III. Sebenarnya harapan itu sudah pupus waktu lihat presentasi yang lain, dari
situ saya berhenti untuk berharap juara haha. Tapi saya dapat hal baru lagi,
bahwa dengan persiapan lebih matang, saya sebenarnya bisa mencapai target! Dan
setidaknya saya lega sudah bisa menulis lagi.
Beberapa hari kemudian, sambil
nunggu ujian, saya ngobrol dengan 2 orang teman saya (salah satunya ga mau saya
anggap teman jahat wkwkw). Salah satu dari mereka sebut saja A memberikan
ucapan selamat atas pencapaian itu, dan memuji saya. Saya bilang kalau pujian
itu berlebihan, karena saya pikir yang ikut lomba itu juga gak terlalu banyak
jadi gak bisa mengukur kemampuan menulis saya. Si B tanya, “dapat apa?” saya cuma menggeleng, gak dapet apa-apa. Saya hanya bilang, “yang penting kan bukan
hadiahnya..” fake banget kan padahal inceran awalnya hadiah yang gak sbeerapa
besar. Tapi jauh dari lubuk hati saya, saya Cuma ingin mengukur kemampuan
menulis saya. Dan pada akhirnya saya jadi tau kemampuan presentasi saya juga.
Si A menimpali, “iya kok bener bukan dapet barangnya. Yang penting kan
pengalamannya. Kita itu adalah akumulasi pengalaman kita”. Ketika dia bilang
begitu, saya jadi berbesar hati lagi. Walaupun telat, saya bisa mulai lagi
untuk mengumpulkan pengalaman yang sempat terhenti pencarian nya selama 2
tahun. Professional lahir dari pengalamannya. “hadi kan dulu juga pernah?” saya
terharu dia masih ingat. Tapi bagi saya itu masa lalu. Saya belum bisa
konsisten dan istiqomah sehingga harus memulai dari awal lagi. Si B nyeletuk,
“ohya? Kamu suka nulis genre apa?” huh gak nyambung. Akhirnya saya bilang, “si
A sok tau”, biar pembicaraan tentang hal ini berhenti.
Entahlah, saya fikir banyak
sekali capaian capaian yang ingin saya lakukan tiap tahunnya, dan bagi saya ..
saya cukup memikirkannya dan bilang sama Allah saja. Usaha apapun yang saya
lakukan, berhubungan atau tidak berhubungan dengan keinginan dan capaian saya,
kalau kata Allah baik, ya tinggal Jadilah!
Bandung, (untuk) 23 Ramadhan 1438
#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
Komentar
Posting Komentar