Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Menyempatkan

Bismillah Nyaris sajaa saya lupa menulis hari ini. Kesibukan-kesibukan lain yang beruntun tiada henti berhasil mengalihkan hal-hal yang sedang saya usahakan konsistensinya, bukan hanya menulis. "Tidur tuh disempatkan, bukan kalau sempat," Itu adalah motto salah satu teman saya selama koas. Bagi dia (dan saya), tidur itu harus. Tidak boleh ada hari yang tidak tidur, dengan jumlah yang cukup baginya. Waktu jaman masih mahasiswa preklinik, dia (dan saya) adalah yang mengkhawatirkan diri sendiri, takut mati karena tidak tidur. Berlebihan sih memang. Makanya, dia membuat prinsip itu. Kalau ada waktu kosong, ya manfaatkan untuk tidur. Kalau benar-benar tidak ada, ya tidurlah sambil kamu duduk, berdiri menunggu, walau hanya 5 menit. Itulah kemampuan kami. Hebat sih. Saya tidak bisa. Kalau lagi jaga malam, jam tidur saya sudah lewat karena lagi shift, ya saya ga akan dan jadi ga bisa tidur, tapi jadi ga bisa mikir wkwk. Kalau pun dipaksakan tidur, bisa-bisa bablas. Darip...

Kita dan Kebiasaan Kita

Bismillah Dulu, kita yang membentuk kebiasaan. Sekarang, kebiasaan yang membentuk kita. Kita selalu berdalih atas nama kebiasaan pada hal-hal yang secara refleks kita lakukan. Atau pada hal-hal yang kita tidak perlu berfikir lagi untuk melakukannya. Otak dan tubuh kita sudah melakukan otomatisasi atas hal-hal itu, hal-hal yang katanya dibentuk oleh kebiasaan. Syukur syukur hal itu adalah amal yang baik, kalau buruk? Menurut Dr. Elfiky, kebiasaan terbentuk melalui enam tahap, yakni: Berpikir, perekaman di dalam otak, pengulangan perilaku, penyimpanan sebagai buah dari pengulangan berkali-kali, pengulangan kembali, dan akhirnya menjadi kebiasaan.  Entah itu kebiasaan positif mau pun negatif, kebiasaan melalui tahap ini. Karena pengulangan yang berkelanjutan dengan tahapan-tahapan di atas yang dilalui, akal manusia meyakini bahwa kebiasaan mereka merupakan bagian terpenting dari hidupnya. Akal melakukan otomatisasi yang mengakar kuat dalam alam bawah sadar sehingga ia mem...

Menghormati Orang Tua

Bismillah Kita, terutama saya, bermodal pengetahuan terbaru dan pemahaman mumpuni, terkadang merasa "superior" karena hal itu. Merasa dan merasa. Berani berkomentar begini dan begitu termasuk kepada yang lebih tua, menghakimi pemikiran mereka yang masih kolot dan konvensional. Lupa bahwa sebelum menjadi seperti itu, orang tua kita pun melewati angka usia kita sekarang dan disertai atmosfernya. Dunia usia 20an. Mereka yang lupa, atau kita? Dididik menjadi generasi yang harus selalu lebih baik dari mereka, itulah saya dan teman teman. Itu harus, karena kewajiban orang tua kita adalah tidak meninggalkan generasi yang lemah, dan menjadi lebih baik dengan semangat yang sama adalah balas budi terbaik untuk mereka, menurut saya. Semangat yang sama. Hanya satu hal yang tidak bisa kita melebihi orang tua kita, selebih lebihnya kita: pengalaman. Apapun itu, usia saya masih 20. Asin garam pahit kehidupan belum sebanyak yang orangtua telan, walau tahu bahwa rasa gara...

Tentang Berjuang

Bismillah Terkadang, membayangkan "apa yang harus saya lakukan dan selesaikan" nya saja sudah lelah. Tak habis pikir bagaimana nanti melewatinya. Cuma satu kalimat yang terbersit, "mampukah saya?" Meminjam kata-kata sebuah partai: Tiap-tiap cita-cita yang mulia memang bukan barang yang murah!  Tiap-tiap tujuan dan maksud yang tinggi, memang bukan barang yang mudah dicari dan didapat!  *** Saya lupa, saya pernah menulis ini:  Katanya memperjuangkan sesuatu itu harusnya bisa sampai menyita waktu, menyita pikiran, terbawa mimpi, terpikir sepanjang perjalanan, menyedot saripati energi sampai tulang belulang dan daging terakhir. Untuk apa waktu dan pikiran kita tersita, apa yang terbawa sampai ke mimpi, terpikir sepanjang jalan, energi kita tercurah, itulah yang secara sadar ataupun tidak sadar kita perjuangkan.  Saya berjuang untuk apa dan siapa? Kenapa harus berjuang? Lillah Hanya hal-hal "besar dan mahal" yang layak u...

Refleksi: Hidup, Mati Sama Saja

Bismillah Hari pertama Ramadhan, saya mendapat kabar berpulangnya seorang saudara jauh yang sempat saya tengok di rumah sakit beberapa minggu lalu. Saya ingat, beberapa minggu lalu juga, saya dapat kuliah dari seorang spesialis forensik tentang kematian. Kuliah yang sering kami sebut (Nama dokternya) show. Beliau yang sanggup berbicara hampir 4 jam tanpa slide, tanpa henti, bukan pidato, tapi "cuci otak". Awalnya, kami membahas tentang bunuh diri. Tentang cara yang benar untuk bunuh diri. wkwkwkw. Kalau bunuh diri itu halal, kami bisa membuat buku tentang cara bunuh diri yang benar, cepat, dan efisien. Kalau bunuh diri itu halal, maka akan banyak orang yang melakkukannya. Sudah diperbolehkan agama, masalah hidup juga selesai kan? Dalam kuliahnya, dan juga dalam literatur, beliau bilang bahwa ada 5 definisi mati di dunia kedokteran. Yang dianggap mati betulan oleh seorang dokter adalah ketika batang otak mati. Tapi, pasien di ICU juga mati, mati dalam definisi...