Dan inilah, yang saya khawatirkan pun terjadi. Dengan sok sok an, saya menantang diri sendiri untuk mampu menulis selama 30 hari di bulan Ramadhan. Padahal di awal saya tahu kalau menulis itu butuh effort yang luar biasa. Meminjam kata Kang Dani, yang saya khawatirkan adalah ketika ekspirasi lebih panjang dari inspirasi, dari tarikan nafas yang kita siapkan untuk konsisten beramal. Tapi yang saya khawatirkan lebih dari itu, saya takut setelah ekspirasi malah apneu alias gak napas lagi. Konsisten aka istiqomah itu susah ya ternyata :”) Tulisan-tulisan saya, hanya diawal saja yang berhasil ditulis tepat waktu. Menjelang sepuluh hari kedua, saya hanya sempat menulis draft-draftnya saja, diedit bila sempat, di post bila luang. Menjelang sepuluh hari terakhir, konsistensi ini kalah dengan kesibukan, baru sempat merapel belakangan, jadi ya kualitasnya begini adanya. Tapi, berhubung panitianya baik, saya rapel 10 tulisan terakhir dalam 3 hari. Maaf ya :”) Saya tau ba...
" Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja," a quote by Buya Hamka Sebagai (calon) penyedia jasa kesehatan, saya akan berinteraksi dengan jasad dan nyawa manusia. Saya akan berinteraksi dengan hidup dan kehidupan orang lain, sampai mungkin ada saat tanggungjawab hidup dan kehidupannya ada di tangan yang kecil ini. Memikirkanya saja lelah dan berat. Suatu waktu sesorang bertanya pada saya, "bagaimana rasanya mempelajari hidup manusia?" Saya jawablah saat itu, kurang lebih begini, "Rumit. Wajarlah seorang Moore masuk islam karenanya, tapi ga membuat seoramg atheis yang lain percaya bahwa dirinya diciptakan. Saya sendiri tak tahu apakah menjadi bertambah yakin atau tidak karena pemikiran saya sudah terset bahwa saya adalah makhluk yang tercipta. Hmmm selebihnya banyak bersyukur karena saya diciptakan dengan sempurna dalam artian untuk menjalankan hidup. Rumit, karena banyak hal dari hal seabst...