Langsung ke konten utama

Postingan

Tetap Konsisten Menulis

Dan inilah, yang saya khawatirkan pun terjadi. Dengan sok sok an, saya menantang diri sendiri untuk mampu menulis selama 30 hari di bulan Ramadhan. Padahal di awal saya tahu kalau menulis itu butuh effort yang luar biasa.  Meminjam kata Kang Dani, yang saya khawatirkan adalah ketika ekspirasi lebih panjang dari inspirasi, dari tarikan nafas yang kita siapkan untuk konsisten beramal. Tapi yang saya khawatirkan lebih dari itu, saya takut setelah ekspirasi malah apneu alias gak napas lagi. Konsisten aka istiqomah itu susah ya ternyata :”) Tulisan-tulisan saya, hanya diawal saja yang berhasil ditulis tepat waktu. Menjelang sepuluh hari kedua, saya hanya sempat menulis draft-draftnya saja, diedit bila sempat, di post bila luang. Menjelang sepuluh hari terakhir, konsistensi ini kalah dengan kesibukan, baru sempat merapel belakangan, jadi ya kualitasnya begini adanya. Tapi, berhubung panitianya baik, saya rapel 10 tulisan terakhir dalam 3 hari. Maaf ya :”) Saya tau ba...
Postingan terbaru

Hidup

" Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja," a quote by Buya Hamka Sebagai (calon) penyedia jasa kesehatan, saya akan berinteraksi dengan jasad dan nyawa manusia. Saya akan berinteraksi dengan hidup dan kehidupan orang lain, sampai mungkin ada saat tanggungjawab hidup dan kehidupannya ada di tangan yang kecil ini. Memikirkanya saja lelah dan berat.  Suatu waktu sesorang bertanya pada saya, "bagaimana rasanya mempelajari hidup manusia?" Saya jawablah saat itu, kurang lebih begini, "Rumit. Wajarlah seorang Moore masuk islam karenanya, tapi ga membuat seoramg atheis yang lain percaya bahwa dirinya diciptakan. Saya sendiri tak tahu apakah menjadi bertambah yakin atau tidak karena pemikiran saya sudah terset bahwa saya adalah makhluk yang tercipta. Hmmm selebihnya banyak bersyukur karena saya diciptakan dengan sempurna dalam artian untuk menjalankan hidup. Rumit, karena banyak hal dari hal seabst...

Moments

Bismillah Momen kumpul keluarga yang aku suka adalah saat di perjalanan dan makan bersama di luar. Satu mobil berisi sepuluh orang. Aku melihat semuanya tumbuh dan berkembang, sebab mobil terasa semakin sempit di tiap perjalanannya. Dan juga obrolan di meja makan yang tiap hari makin berbobot.  Di rumah, kami jarang kumpul. Semua anak ibu sedang di masa punya kesibukan masing-masing, tinggal 2 bocah kecil yang sering main di rumah.  Si sulung kadang ada di rumah, tapi kalau di rumah kerjanya nonton dan diam di kamar atau bantu masak. Si anak kedua, gadis yang suka pergi pagi pulang malam, bahkan kadang tidak pulang, begitu pula si anak ketiga yang lagi macem-macem ikut kegiatan di kampus. Si anak keempat, sejak punya motor, setelah pulang sekolah atau lagi libur pasti pergi. Si anak kelima, sering kongkow sama temen-temennya. Si anak keenam, lagi ingin main2 juga ke rumah temennya. Lalu saat datang ke rumah, yang tersisa hanys capek, lelah, lapar, dan ngantuknya. La...

Cerita Jaga Tujuh

Bismillah Waktu di stase anak ini, tempat jaga kami antara 3 tempat: igd, ruang rawat kenanga, atau ruang perinatal anthurium. Kata yang sebelumnya sih, paling enak jaga igd kalau mau yang jelas, atau jaga kenanga kalau mau gabut. Yang jelas, gak jaga peri. Tapi, justru saya lebih suka jaga peri. Walau disuruh ambu, disini lebih terhibur matanya dengan lihat dedek dedek bayi emesh innocent walau mereka nangis-nangis dan ada yang harus diambu, bayi baru lahir memang terlihat bersih dari dosa secara nyata. Ada neglected baby, si bayi kiki, sudah 4 bulan di ruangan peri. Jadi senior dan chief of baby di anturium. Gaya tidurnya udah like a boss. Badannya gembil, karena sering dirawat sama perawat bayi disini. Jadi alasan kami mau jaga peri. Kami gendong-gendong, kami isengin, kami toel-toel pipi gembilnya, kami videoin dan masukin ke instastories, dan sudah kami aku jadi anak masing-masing. Kasihan, sudah 4 bulan gak diambil-ambil si kiki ini. Ada yang bilang karena ibunya sudah meni...

Cerpen: Pesantren (1)

Bagi Hiru, ini adalah hukuman yang diberikan Bundanya. Mengirimnya ke tempat seperti ini, berarti kemarahan. Apalagi dengan kalimat, “Tidak usah pulang. Biar Bunda saja yang kemari.” Ia diusir dan tidak disayang lagi. “Aku di penjara,” gumamnya. Anak bungsu ini dikirim ke sebuah pesantren di Jawa setelah didepak dari sekolahnya. Sekolah yang tidak tahu malu, katanya. Berani mengeluarkan seorang siswa berprestasi yang menyebarkan aroma harum sekolah. Hiru adalah seorang pahlawan sekolah di bidang olahraga dan matematika. Namun, saat pemilihan ketua OSIS, ia adalah seorang pecundang yang memalsukan tanda tangan dan kemudian berani meneriakkan kata-kata kasar di hadapan Yang terhormat kepala sekolah. Rupanya, Hiru seorang yang lebih berani. Dan Bundanya lebih berani, menerima bahwa anaknya memang bersalah dan kemudian menyekolahkannya ke ‘penjara suci’. Tidak, Bundanya bukan berani melainkan malu karena melahirkan pahlawan tak beretika. Sore itu, Bang Ghan datang menemui adiknya....

Fa Aina Tazhabun

Bismillah Setelah  (Ramadhan) ini (pergi) , kita mau kemana? Mau kemana, tilawah-tilawah sejuz perharinya setelah (Ramadhan) ini (pergi)? Mau kemana, sholat-sholat malam kita setelah (Ramadhan) ini (pergi)? Mau kemana, dhuha-dhuha kita tiap pagi yang sempat kita luangkan di jam kerja kita setelah (Ramadhan) ini (pergi)? Mau kemana, infaq-infaq terbaik kita setelah (Ramadhan) ini (pergi)? Mau kemana, langkah-langkah kaki kita setelah (Ramadhan) ini (pergi)? Apakah akan ikut pergi juga bersama Ramadhan. Biarkan, hanya lemak (dosa) kita yang ikut pergi. Jangan yang lain ikut juga. Kita, bukan beribadah kepada Ramadhan kan? Ramadhan hanya datang setahun sekali, tapi pemilik Ramadhan adalah kekal. Ya Allah, terimalah amalan kami di bulan Ramadhan ini, walau sedikit kuantitas dan kualitasnya. Izinkan kami menjadi hamba yang lolos dalam pelatihan sebulan kemarin., sebagaimana lolosnya para prajurit Badar.  Bandung, (untuk) 25 Ramadhan 1438 #RamadhanIns...

Menjawab Harapan

Bismillah Halo, kamu. Diriku di tahun 2022. Dalam keadaan apa kau membaca suratku? Aku berharap kau selalu dilimpahi kesehatan hingga detik kau membaca surat ini. Sehat, barang yang akan selalu kau perjuangkan. Yang kamu tahu sejak kau menjadi seorang mahasiswa kesehatan adalah barang paling mahal sedunia. Ini aku, dirimu lima tahun yang lalu. Seorang anak muda ‘ baperan ’, si melankolis yang semakin melankolis karena baru saja menonton sebuah drama medical . Drama yang dimana saat aku menontonnya aku seperti sedang melihat masa depanku, alias dirimu. Kuharap, kau masih menyukai genre drama yang sama. Dan kuharap, kau sudah sehebat mereka J Aku berharap kau masih bisa mencium punggung tangan bapak dan ibu, yang berhasil membentuk pribadi baikmu, menemani perjalananmu mencapai pengabdian doktermu. Kau tahu bahwa tidak semua orangtua sebaik mereka yang memberikan anaknya untuk diabdikan pada ummat. Aku berharap kau masih bisa melihat adik-adikmu tumbuh besar bahagia dengan a...